Kapolres Kotamobagu Gelar Jumat Keliling, Bangun Sinergi Kamtibmas Lewat Silaturahmi dengan Jamaah LDII

BMR56 Dilihat

KOTAMOBAGU, Global Berita – Keamanan tidak selalu lahir dari sirene, patroli, atau penegakan hukum yang kaku. Ada kalanya, rasa aman justru tumbuh dari hal-hal sederhana: duduk bersama, membuka percakapan, dan kesediaan untuk mendengarkan suara masyarakat.

Pesan tersebut tercermin jelas dalam kegiatan “Jumat Keliling” yang dilaksanakan oleh Kapolres Kotamobagu, AKBP Abdul Kholik, bersama para jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Desa Poyowa Kecil, Kotamobagu, pada Jumat (18/9/2026).

Kehadiran Kapolres di tengah-tengah jamaah bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi ruang silaturahmi strategis untuk membangun komunikasi yang lebih erat antara Polri dan masyarakat. Dalam kesempatan ini, AKBP Abdul Kholik tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), tetapi juga secara langsung menyerap masukan serta persoalan yang berkembang di lingkungan warga.

AKBP Abdul Kholik menjelaskan bahwa program Jumat Keliling dirancang khusus untuk membuka kanal komunikasi dua arah.

“Kami berharap masyarakat dapat memberikan masukan maupun saran yang konstruktif. Dengan komunikasi seperti ini, kami bisa terus memperbaiki pelayanan kepolisian sekaligus bersama-sama menjaga situasi Kamtibmas agar tetap kondusif di wilayah Kotamobagu,” ujar Abdul Kholik.

Sementara itu, Pembina LDII Desa Poyowa Kecil, Haji Sudirman Sulaiman atau yang akrab disapa Haji Ninong, menilai pertemuan tersebut memiliki makna mendalam melebihi sekadar kunjungan biasa. Ia memandang silaturahmi antara aparat dan masyarakat sebagai fondasi utama dalam membangun rasa saling percaya.

“Kami menyambut baik Jumat Keliling ini. Ketika Kapolres mau datang, duduk bersama, dan mendengarkan masyarakat, itu menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya urusan polisi. Masyarakat juga punya tanggung jawab untuk menjaganya,” kata Haji Ninong.

Haji Ninong menekankan bahwa pencegahan masalah keamanan akan lebih efektif jika komunikasi antara warga dan aparat berjalan terbuka. Dengan demikian, warga tidak merasa takut untuk menyampaikan keluhan, dan polisi dapat memahami kondisi lapangan secara lebih akurat.

“Jangan sampai masyarakat baru bertemu polisi ketika ada masalah. Justru sebelum masalah terjadi, kita harus sudah saling mengenal dan membangun komunikasi. Kalau sudah ada kepercayaan, persoalan kecil tidak harus berkembang menjadi persoalan besar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Haji Ninong mengajak seluruh warga untuk menjaga lingkungan dengan mengedepankan nilai kebersamaan, toleransi, dan kepedulian sosial. Menurutnya, suasana aman tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran aparat, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk turut serta menjaga ketertiban.

“Keamanan itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang kita jaga bersama. Polisi menjaga dari sisi tugasnya, masyarakat menjaga dari lingkungan masing-masing,” pungkasnya.

Melalui kegiatan Jumat Keliling ini, tersisa sebuah pesan sederhana namun kuat: Kamtibmas tidak hanya dibangun di atas kekuatan aparat, tetapi juga dari kepercayaan yang tumbuh ketika polisi dan masyarakat bersedia duduk bersama, berbicara, dan saling mendengarkan.

 

Hery Mokodongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *