SATWA ENDEMIK PULAU SANGIHE DILIRIK TURIS MANCANEGARA, KOMUNITAS “PITTA CHASE” KUNJUNGI SANGIHE

SANGIHE665 Dilihat

SANGIHE, GLOBALBERITA– Tahun 2025, Pulau Sangihe dilirik oleh wisatawan asal luar negeri yang tertarik dengan satwa endemik dari pulau sangihe.

Setelah kunjungan tujuh wisatawan asal Inggris, Belanda, Amerika Serikat, dan Prancis dalam rangka pengamatan Burung (Bird Watching) khas sangihe, kali ini pulau sangihe dikunjungi lagi oleh tiga wisatawan asal Negeri jiran Malaysia yang merupakan komunitas Pitta Chase, Komunitas penggemar burung pitta, salah satu spesies burung yang ada di Sangihe.

Pada kesempatan saat berbincang santai bersama Asisten I Kabupaten Sangihe Johanis Pilat, salah satu anggota dari komunitas Pitta Chase mengatakan bahwa Burung jenis Pitta ada lima puluh dua  jenis di dunia , sepuluh lainnya ada di Indonesia termasuk salah satunya di Pulau Sangihe.

“Di dunia, ada lima puluh dua jenis burung pitta, dan di Indonesia terdapat tiga puluan jenis, termasuk di Sangihe”, ungkap Apiq.

Berbeda dengan wisatawan sebelumnya yaitu “pengamat burung”, Apiq dan teman-temannya lebih senang disebut Bird Photograper. Mereka berkeliling dunia untuk mengumpulkan koleksi foto burung, khususnya jenis pitta. Apiq sendiri telah mengumpulkan 26 dari 52 spesies pitta.

Apiq menyampaikan kekagumannya dengan Pulau Sangihe. Menurut Apiq, Sangihe memiliki potensi “Pelancong Minat Khusus” yaitu avitourism. Kekayaan dan potensi Sangihe lebih besar dari daerah lain di Sulawesi, bahkan dapat mengalahkan Cagar Alam Tangkoko di Bitung.

“Bayangkan, pulau sekecil ini memiliki 10 spesies burung endemik, belum lagi satwa lain seperti tarsius, kuskus, katak, kupu-kupu, dan masih banyak lagi”, kata Apiq.

Keunggulan Sangihe menurut Apiq adalah akses dan kemudahan dalam menemukan burung. Apiq mencontohkan saat pengamatan burung hantu di mess Burung Indonesia, yang bertempat di Kampung Barangka Kecamatan Manganitu, kurang dari 5 menit, burung sudah muncul.

Selain itu, akomodasi dan fasilitas di Sangihe yang cukup lengkap juga membuat mereka merasa lebih aman dan nyaman, seperti banyaknya pilihan hotel/penginapan, cafe, tempat berbelanja, dan moda transportasi yg mudah dan relatif terjangkau.

Sayangnya dari semua potensi yang ada ini, wisata burung dan satwa endemik masih belum diseriusi dan dikelola dengan baik oleh pemerintah. Saat pengamatan di daerah Malebur, Apiq melihat beberapa orang membawa senapan untuk berburu burung. Perlu peran pemerintah dan kerja sama semua pihak untuk mengelola ini, dimulai dari sosialisasi dan penyebaran informasi tentang satwa di sekolah-sekolah, dan di masyarakat. Masyarakat Sangihe harus bangga pada satwa dan alam mereka, tegas Apiq.

Dalam kunjungan singkat selama 2 hari 1 malam, Apiq dan rombongannya berhasil memotret 4 burung dari 2 target mereka, yaitu Sangihe PittaApiq (lehangi), Western hooded pitta (kupaw), sangihe scops owl (tana lawo), Sangihe hanging parrot (lungsihe) .