TOMOHON, Globalberita.com – Kota Tomohon memang sedang bersiap menggelar hajatan besar untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-23 besok. Namun, di balik semuanya, wajah asli pariwisata “Kota Bunga” justru tampak kusam dan terbengkalai. Kondisi fasilitas publik yang memprihatinkan kini memicu gelombang desakan agar pemerintah segera menyerahkan pengelolaan wisata kepada pihak profesional.
Aktivis LSM Tomohon, Don Malesung, angkat bicara secara lugas terkait carut-marutnya kondisi ini. Menurutnya, Pemerintah Kota harus berani mengambil keputusan proaktif untuk menyelamatkan aset-aset wisata yang kini hanya menjadi pajangan rusak. Don menegaskan bahwa daripada membiarkan objek wisata terus terbengkalai dan menjadi beban administrasi, lebih baik pemerintah memberi ruang kepada pihak ketiga yang terpercaya untuk melakukan pengelolaan. Baginya, menyerahkan manajemen kepada pihak swasta yang profesional adalah langkah taktis agar pariwisata Tomohon tidak terus-menerus “mati suri” di tangan birokrasi yang dianggap kurang lincah.
Potret buram pariwisata ini terlihat jelas di lokasi-lokasi strategis seperti Hutan Kota Tomohon. Fasilitas yang dulunya menjadi kebanggaan, kini dipenuhi kursi taman yang hancur dan semak belukar yang menutupi jalur pejalan kaki. Padahal, jika menilik data riil, antusiasme wisatawan ke Tomohon sebenarnya sedang meledak. Dari angka 378.800 kunjungan di tahun 2021, jumlah tersebut meroket hingga 517.059 wisatawan pada akhir 2023. Don Malesung menilai, angka pertumbuhan yang luar biasa ini akan menjadi sia-sia jika pengalaman wisatawan di lapangan hanya disuguhi fasilitas yang tidak terurus dan sampah yang berserakan.
Namun, upaya untuk meminta kejelasan dari pemangku kebijakan justru menemui jalan buntu. Kepala Dinas Pariwisata Kota Tomohon, Yudistira Siwu, yang coba dikonfirmasi media ini melalui pesan singkat WhatsApp dalam berbagai kesempatan, terkesan memilih untuk tidak memberikan jawaban. Pesan konfirmasi yang dikirimkan hanya menunjukkan status centang satu,padahal nomornya aktif termonitor di grup WA, hal ini Justru mencerminkan sikap bungkam di tengah kencangnya tuntutan transparansi publik menjelang hari jadi kota.













