TOMOHON,Globalberita.com —Pembangunan kawasan Batu Lapis Tambulinas di Kelurahan Tinoor Dua kini menjadi sorotan tajam menyusul besarnya anggaran yang telah dikucurkan namun belum memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tomohon.
Meskipun proyek yang berlokasi di area strategis Jembatan Tambulinas ini menelan biaya fantastis mencapai dua miliar lebih dari Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), potensi ekonominya dinilai masih jalan di tempat.
Fasilitas yang dibangun dengan dana besar tersebut hingga kini belum mampu menghasilkan pemasukan bagi kas daerah, yang memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas pemanfaatan anggaran negara tersebut.
Menanggapi sorotan ini, salah satu sumber resmi dari Dinas Pariwisata Kota Tomohon memberikan penjelasan bahwa secara konsep, kawasan Batu Lapis Tambulinas memang tidak diproyeksikan sebagai lokasi wisata konvensional tempat orang berkunjung dalam waktu lama.
Kawasan ini dibangun murni sebagai landmark utama di pintu masuk bagian Utara Kota Tomohon dan menjadi bagian integral dari spot wisata lainnya di Kota Bunga.
Sumber tersebut menganalogikan fungsinya menyerupai papan nama “Hollywood”, yang berperan sebagai ikon visual dan penanda wilayah bagi siapa pun yang melintas, bukan sebagai destinasi wisata dengan pengelolaan fasilitas komersial penuh.
Meski di lokasi tersebut telah disediakan fasilitas penunjang seperti toilet untuk kenyamanan pengunjung yang singgah sejenak, namun keberadaannya pun belum mampu menjadi sumber retribusi yang berdampak pada PAD.
Pihak dinas membeberkan alasan teknis mengapa lokasi ini tidak dikembangkan lebih jauh menjadi objek wisata aktif. Selain keterbatasan lahan parkir yang sangat minim di jalur utama yang padat, kondisi geografis di sekitar lokasi ini diketahui memiliki potensi kerawanan longsor yang cukup tinggi.
Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama mengapa pemerintah lebih memilih menjadikannya sebagai penanda estetika kota ketimbang membuka area tersebut untuk aktivitas wisata massal yang berisiko.
Namun, argumen tersebut tidak serta-merta meredam kritik masyarakat. Yohanes, warga Tomohon Utara, tetap mempertanyakan urgensi kucuran dana yang begitu besar hanya untuk sebuah penanda visual atau landmark.
Ia menilai bahwa anggaran miliaran rupiah dari dana PEN, terasa sangat kontras jika hasilnya tidak memberikan timbal balik finansial yang nyata bagi daerah.
Tanpa adanya transparansi dan kajian pemanfaatan yang lebih produktif, infrastruktur dengan anggaran raksasa ini dikhawatirkan hanya akan menjadi beban pemeliharaan rutin tanpa pernah memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi pembangunan Kota Tomohon.







