Aktivitas Kegempaan Gunung Api Awu Meningkat

SANGIHE155 Dilihat

SANGIHE, GLOBAL BERITA — Gunung Api Awu yang berada di Kabupaten Sangihe, mengalami peningkatan aktivitas kegempaan hal ini dibenarkan dengan dikeluarkannya Press Rellease oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, mencatat adanya kenaikan kegempaan yang diduga akibat pergerakan magma menuju kedalaman yang lebih dangkal.

Ditandai dengan meningkatnya jumlah Gempa Vulkanik Dangkal (VB), pada periode tanggal 29 Januari 2024 hingga 8 Februari 2024 selama 11 hari terekam Gempa VB sebanyak 157 kejadian dan terekam Gempa Vulkanik Dalam (VA) sebanyak 42 kejadian. Energi gempa mengalami peningkatan yang terdeteksi melalui grafik RSAM yang meningkat. Terekam 3 kali Gempa Tremor Frekuensi Rendah dengan frekuensi dominan sekitar 1.5 Hz dan lama gemla 40 105 detik, yang menunjukan adanya peningkatan gempa- gempa permukaan.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Awu, Didi Wahyudi mengatakan bahwa dari hasil pengamatan visual dan kegempaan hingga akhir periode pengamatan, terdeteksi gejala kenaikan aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan proses migrasi magma dangkal, juga perlu diwaspadai kejadian- kejadian gempa dengan energi besar dan terus menerus berpotensi untuk mendobrak kubah lava dan mengakibatkan erupsi eksplosif.

“Dari hasil pengamatan visual dan kegempaan sampai akhir periode pengamatan, terdeteksi gejala kenaikan aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan proses migrasi magma dangkal. Juga, perlu diwaspadai kejadian- kejadian gempa dengan energi besar dan terus menerus yang bisa berpotensi mendobrak kubah lava dan mengakitbatkan erupsi,” jelas Didi Wahyudi Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Awu, Jumat (9/2/2024).

Selain dari hasil pengamatan deformasi dengan menggunakan pemantauan GNSS pada Gunjng Awu periode 1 Juni 2023 hingga 31 Janiari 2024 terdeteksi inflasi (penggembungan) yang mengindikasikan adanya asupan magma yang bergerak menuju peemukaan.

“Gunung Api Awu berpotensi terjadi erupsi magmatik eksplosif menghasilkan lontaran material pijar dan/ atau aliran piroklastik, magmatik efusif menghasilkan akiran lava, maupun erupsi freatik yang didominasi uap, gas gunung api maupun material erupsi sebelumnya,” ungkap Wahyudi.

Wahyudi mejelaskan lebih lanjut, bahwa potensi pembongkaran kubah lava dapat terjadi jika tekanan di dalam sistem magmatik mengalami peningkatan signifikan.

“Adapun potensi bahaya lain berupa emisi gas gunung api seperti C0, C02, H2S, N2 dan CH4. Gas- gas tersebut bisa membahayakan jiwa jika konsentrasi yang terhirup melebihi nilai ambang batas aman,” tambahnya lagi.

Meskipun Gunung Api Awu masih dalam tingkat aktivitas level waspada, namun masyarakat juga pengunjung dan wisatawan agar tidak mendekati serta dan beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunung Api Awu terkait potensi bahaya vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan jik terjadi erupsi freatik yang tiba- tiba tanpa didahului dengan gejal kenaikn aktivitas yang jelas.

“Radius juga jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya, tingkat aktivitas Gunung Api Awu akan ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual dan kegempaan yang signifikan. Masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya aliran lahar di sungai- sungai yang berhulu dari puncak gunung pada musim penghujan,” tutup Didi Wahyudi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *