Oleh: H.Y Supit
“A city is not built for speed of growth, but for the endurance of life.” – Jane Jacobs
Usia 23 tahun adalah usia peralihan. Bukan lagi masa kanak-kanak yang belajar berdiri, namun juga belum sepenuhnya matang. Di usia inilah sebuah kota seharusnya mulai bertanya lebih dalam: bukan sekadar apa yang telah dibangun, tetapi untuk apa dan demi siapa pembangunan itu diarahkan.
Di Hari Ulang Tahun ke-23 ini, 27 Januari 2026, Kota Tomohon berdiri di persimpangan penting sejarahnya. Selama lebih dari dua dekade, arah pembangunan telah memberi penekanan besar pada pembangunan manusia, pendidikan, kesehatan, dan tata kelola pemerintahan. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Amartya Sen yang menegaskan bahwa, “Development consists of the removal of various types of unfreedoms that leave people with little choice and little opportunity.” Pembangunan bukan sekadar pertumbuhan, melainkan pembebasan kapasitas manusia.
Namun, pembangunan manusia tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan ruang hidup yang layak, sistem kota yang berfungsi, dan infrastruktur yang menopang keberlanjutan. Di titik inilah Tomohon memasuki fase baru: pergeseran dari pembangunan manusia menuju pembangunan infrastruktur kota yang berorientasi ketahanan.
Infrastruktur modern tidak lagi dimaknai semata sebagai beton dan aspal. Ia adalah jaringan kehidupan kota. Menurut UN-Habitat, “Urban infrastructure must be people-centered, climate-resilient, and environmentally sustainable.” Infrastruktur yang gagal mempertimbangkan manusia dan lingkungan hanya akan melahirkan kota yang tumbuh cepat, tetapi rapuh.
Sebagai kota yang berada di kawasan rawan bencana, aktivitas vulkanik, longsor, dan tekanan perubahan iklim, Tomohon dituntut melampaui konsep kota berkembang menuju kota tangguh (resilient city). Konsep ini ditegaskan oleh Rockefeller Foundation yang menyatakan:
“A resilient city is one that has the capacity to survive, adapt, and grow in the face of chronic stresses and acute shocks.” Ketangguhan bukan berarti bebas dari krisis, melainkan kesiapan menghadapinya dengan sistem yang matang dan masyarakat yang sadar.
Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur Tomohon ke depan harus berpijak pada keselarasan dengan alam. Lingkungan bukanlah penghambat pembangunan, melainkan fondasinya. Tomohon adalah penyangga ekologi bagi kota/kabupaten lain yang jika tidak dikelola dengan baik akan memberikan dampak risiko bagi wilayah sekitarnya.
Sebagaimana diingatkan oleh Gro Harlem Brundtland dalam laporan Our Common Future: “Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.”
Ruang terbuka hijau, tata air yang berkelanjutan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, serta perlindungan kawasan rawan bencana bukanlah pilihan tambahan, melainkan keharusan moral. Kota yang mengabaikan ekologi sebenarnya sedang menabung krisis untuk masa depan.
Ke depan, Tomohon perlu membangun ketahanan lintas sektor:
Ketahanan Sosial: Pembangunan memberi rasa aman dan keadilan bagi semua lapisan masyarakat, sesuai prinsip John Rawls bahwa “Justice is the first virtue of social institutions.”
Ketahanan Ekonomi: Infrastruktur yang membuka ruang kerja dan inovasi bagi generasi muda.
Ketahanan Lingkungan: Menghormati daya dukung alam sebagai batas pembangunan.
Ketahanan Tata Kelola: Kebijakan publik yang konsisten, transparan, dan berpihak pada kepentingan jangka panjang.
Ketahanan Digital: Menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan literasi dan etika publik.
Jane Jacobs pernah mengingatkan bahwa kota yang sehat bukan dibangun dari rencana besar semata, tetapi dari kehidupan yang tumbuh secara organik dan inklusif. “Cities have the capability of providing something for everybody, only because, and only when, they are created by everybody.”
HUT ke-23 Kota Tomohon seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Infrastruktur yang dibangun hari ini adalah warisan untuk satu generasi ke depan. Setiap keputusan tata ruang, setiap kebijakan lingkungan, dan setiap investasi publik akan menentukan apakah Tomohon menjadi kota yang hanya indah di permukaan, atau kuat hingga ke akarnya.
Tomohon memiliki modal sosial yang kuat, karakter budaya yang menjaga harmoni, serta sumber daya manusia yang terus bertumbuh. Jika pembangunan manusia, infrastruktur, dan lingkungan disatukan dalam satu visi keberlanjutan, maka Tomohon bukan hanya akan bertahan, tetapi berdaulat atas masa depannya sendiri.
Di usia ke-23 ini, arah itu patut ditegaskan: Dari membangun manusia, menegakkan infrastruktur kota, menuju Tomohon yang tangguh, berkelanjutan, dan bermartabat. Karena kota yang besar tidak diukur dari luas wilayah atau tinggi bangunannya, melainkan dari kemampuannya menjaga kehidupan hari ini dan di masa depan.
Selamat Hari Jadi ke-23 Kota Tomohon tercinta.
#RefleksiKonstruktif







