Awal Tahun 2024, Kasus DBD di Sangihe Melonjak

SANGIHE167 Dilihat

SANGIHE, GLOBAL BERITA — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih terus terjadi di kabupaten sangihe, hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Daerah Sangihe, dr. Handry Pasandaran yang menyebutkan bahwa diawal tahun 2024 khususnya sepanjang bulan Januari sudah ada 21 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 1 kasus meninggal dunia.

”Terdata ada 21 kasus warga yang positif DBD, ini terjadi sepanjang bulan Januari 2024 hingga saat ini, dan sudah ada 1 kasus meninggal dunia,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Daerah Sangihe, Senin (5/2).

Dirinya menjelaskan, langkah- langkah yang dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kasus DBD, pihak Dinkes Sangihe sudah melakukan pemberitahuan seperti surat edaran bagi seluruh masyarakat melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) serta pemerintah setempat.

”Kami sudah mengirimkan surat edaran ke masyarakat lewat Puskesmas dan pemerintah setempat, hal ini untuk menekan lonjakan kasus DBD di Sangihe,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Sangihe pun menjelaskan, bahwa Fogging bukanlah menjadi satu- satunya solusi untuk menangani masalah DBD, menurutnya yang menjadi akae masalah pertumbuhan nyamuk penyebab DBD ini adalah kebersihan lingkungan, sehingga yang perlu diberantas itu adalah sarah nyamuk atau wadah nyamuk untuk berkembang biak.

”Nyamuk ini habitatnya pada air yang tergenang atau air yang tertampung dirumah- rumah penduduk, disana jentik- jentik nyamuknya hidup kemudian bertumbuh menjadi nyamuk dewasa, kemudian menularkan virus DBD lewat gigitan di permukaan kulit. Jadi untuk fogging tidak bisa membunuh jentik nyamuk, yang jelas harus dilakukan adalam 3M plus,” jelasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, karena mata rantai penularan virus ini adalah nyamuk dan agar kasus DBD di Sangihe bisa menurun, solusinya yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan kebersihan diri dan keluarga dengan menerapkan 3M.

”Kuncinya adalah upaya menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, bisa dilakukan per individu, per keluarga atau per kelompok masyarakat. Ini yang penting dan paling efektif sebagai upaya secara preventif mencegah peningkatan dan penyebarluasan DBD,” tutup Pasandaran. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *